Daftar barang yang kami tolak produksi lebih panjang daripada katalognya. Sebagian ditolak karena selera, sebagian karena alasan yang lebih keras dari selera. Tulisan ini soal yang kedua — dan soal satu barang di katalog kami yang paling sering ditanyakan orang.
Pertanyaan yang paling sering masuk: tato
Kami menjual desain tato, dan mengerjakannya lewat studio mitra. Setiap kali daftar produk ini dibagikan, pertanyaannya datang dalam nada yang sama: apakah pantas? Apakah tato termasuk seni terapan yang sah, atau ia berada di kategori lain yang seharusnya tidak berada satu halaman dengan rosario?
Pertanyaan itu wajar, dan di Indonesia lebih wajar lagi. Untuk sebagian besar umat Katolik di sini, tato masih terbaca sebagai penanda sosial sebelum terbaca sebagai gambar: preman, mantan, anak nakal, orang yang "belum selesai". Kami tidak akan berpura-pura asosiasi itu tidak ada. Kami cuma berpendapat bahwa itu asosiasi, bukan argumen.
Kalau pertanyaannya benar-benar soal seni terapan — apakah gambar yang dikerjakan tangan terlatih, pada permukaan yang dipilih, dengan komposisi yang direncanakan, bisa disebut karya — maka jawabannya sudah dijawab jauh sebelum kami. Peziarah Kristen ke Yerusalem sudah pulang membawa tanda salib di lengan selama berabad-abad, dari keluarga penato yang sampai hari ini masih membuka pintu di Kota Tua dengan cetakan kayu warisan leluhurnya. Koptik di Mesir menato salib kecil di pergelangan tangan sebagai penanda baptis, dan sudah melakukannya selama lebih dari seribu tahun.
Yang membedakan bukan mediumnya. Yang membedakan apa yang digambar, siapa yang menggambar, dan kenapa orang itu memintanya.
Karena itu tato ada di katalog kami dengan syarat yang lebih ketat daripada produk lain: hanya perbendaharaan devosional, dikerjakan satu studio yang kami kenal, dan dengan hak menolak permintaan yang ada di tangan penatonya, bukan di tangan pembeli.

Sekarang bagian yang kami tolak
Ada spektrum di merch iman, dan ujung-ujungnya tidak setara. Menyamakan semuanya sebagai "komersialisasi agama" membuat percakapannya jadi malas. Lebih berguna kalau diurutkan.
- Ringan
- Toko daring di Amerika yang menjual kopi bermerek nama santo, lengkap dengan pelesetan di kemasannya. Terasa jenaka atau murahan tergantung selera — tapi nama santo dipakai untuk menghormati, bukan merendahkan.
- Menengah
- Kutipan ayat yang dipotong sampai hilang isinya, dicetak besar di atas barang yang tidak ada hubungannya, semata karena hurufnya bagus.
- Berat
- Nama pribadi Allah dicetak di pakaian dalam. Kami pernah melihatnya: sepotong kain sekecil itu, dengan sebutan Pribadi Ketiga Tritunggal tercetak melintang di depannya.
- Tolak mutlak
- Apa pun yang meletakkan nama, gambar, atau lambang kudus di posisi yang tujuannya menggoda, melucu, atau merendahkan.
Bedanya bukan soal berapa harganya, atau apakah barangnya "religius". Bedanya soal posisi. Kopi bernama santo meletakkan nama itu di posisi hormat yang agak konyol. Yang di baris terakhir meletakkannya di posisi yang secara sengaja bertabrakan dengan kekudusannya — dan tabrakan itulah produknya. Itu bukan salah selera. Itu tujuan desainnya.
Kenapa mediumnya boleh tidak konvensional
Kami memakai medium yang tidak semuanya biasa dipakai untuk barang rohani di Indonesia: kaos, tote, cetak risograf, kulit manusia. Tapi medium tidak pernah jadi tempat garis itu ditarik, karena kalau ditarik di situ, kaca patri dulu juga barang baru, dan cetak kayu dulu juga dianggap terlalu murah untuk gambar suci.
Garisnya ditarik di penggambarannya. Di semua barang yang kami keluarkan, berlaku hal yang sama dan tidak dinegosiasikan:
- Gambar dan lambang kudus tidak pernah diletakkan di barang atau posisi yang tujuannya menggoda, melucu, atau merendahkan.
- Ayat dikutip utuh secukupnya, dengan rujukannya, tidak dipotong sampai berubah arti.
- Wajah Kristus, Bunda Maria, dan para kudus digambar dengan perbendaharaan devosional — bukan sebagai maskot, karikatur, atau tempelan tren.
- Tidak ada barang yang dijual dengan janji bahwa membelinya menambah rahmat, keberuntungan, atau perlindungan.
- Kalau satu barang cuma bisa dijelaskan sebagai lelucon, ia tidak diproduksi.
Itu sebabnya daftar tolakan kami lebih panjang daripada katalognya, dan kemungkinan besar akan terus begitu. Menolak lebih murah daripada menarik barang dari peredaran — dan jauh lebih murah daripada menjelaskan kepada seseorang kenapa benda yang ia beli untuk ibunya ternyata melewati batas.