PEZIARAH

Di mana batas merch iman

Ada barang yang kami tolak produksi. Daftarnya lebih panjang daripada katalognya.

Dion Wicaksono · 16 Mei 2026 · 9 menit baca

Daftar barang yang kami tolak produksi lebih panjang daripada katalognya. Sebagian ditolak karena selera, sebagian karena alasan yang lebih keras dari selera. Tulisan ini soal yang kedua — dan soal satu barang di katalog kami yang paling sering ditanyakan orang.

Pertanyaan yang paling sering masuk: tato

Kami menjual desain tato, dan mengerjakannya lewat studio mitra. Setiap kali daftar produk ini dibagikan, pertanyaannya datang dalam nada yang sama: apakah pantas? Apakah tato termasuk seni terapan yang sah, atau ia berada di kategori lain yang seharusnya tidak berada satu halaman dengan rosario?

Pertanyaan itu wajar, dan di Indonesia lebih wajar lagi. Untuk sebagian besar umat Katolik di sini, tato masih terbaca sebagai penanda sosial sebelum terbaca sebagai gambar: preman, mantan, anak nakal, orang yang "belum selesai". Kami tidak akan berpura-pura asosiasi itu tidak ada. Kami cuma berpendapat bahwa itu asosiasi, bukan argumen.

Kalau pertanyaannya benar-benar soal seni terapan — apakah gambar yang dikerjakan tangan terlatih, pada permukaan yang dipilih, dengan komposisi yang direncanakan, bisa disebut karya — maka jawabannya sudah dijawab jauh sebelum kami. Peziarah Kristen ke Yerusalem sudah pulang membawa tanda salib di lengan selama berabad-abad, dari keluarga penato yang sampai hari ini masih membuka pintu di Kota Tua dengan cetakan kayu warisan leluhurnya. Koptik di Mesir menato salib kecil di pergelangan tangan sebagai penanda baptis, dan sudah melakukannya selama lebih dari seribu tahun.

Yang membedakan bukan mediumnya. Yang membedakan apa yang digambar, siapa yang menggambar, dan kenapa orang itu memintanya.

Karena itu tato ada di katalog kami dengan syarat yang lebih ketat daripada produk lain: hanya perbendaharaan devosional, dikerjakan satu studio yang kami kenal, dan dengan hak menolak permintaan yang ada di tangan penatonya, bukan di tangan pembeli.

Salib Kalvari, garis tunggal. Motif ziarah yang paling tua dan paling sedikit berubah.
Salib Kalvari, garis tunggal. Motif ziarah yang paling tua dan paling sedikit berubah.

Sekarang bagian yang kami tolak

Ada spektrum di merch iman, dan ujung-ujungnya tidak setara. Menyamakan semuanya sebagai "komersialisasi agama" membuat percakapannya jadi malas. Lebih berguna kalau diurutkan.

SPEKTRUM, DARI PALING RINGAN KE PALING TIDAK BISA DITAWAR
Ringan
Toko daring di Amerika yang menjual kopi bermerek nama santo, lengkap dengan pelesetan di kemasannya. Terasa jenaka atau murahan tergantung selera — tapi nama santo dipakai untuk menghormati, bukan merendahkan.
Menengah
Kutipan ayat yang dipotong sampai hilang isinya, dicetak besar di atas barang yang tidak ada hubungannya, semata karena hurufnya bagus.
Berat
Nama pribadi Allah dicetak di pakaian dalam. Kami pernah melihatnya: sepotong kain sekecil itu, dengan sebutan Pribadi Ketiga Tritunggal tercetak melintang di depannya.
Tolak mutlak
Apa pun yang meletakkan nama, gambar, atau lambang kudus di posisi yang tujuannya menggoda, melucu, atau merendahkan.

Bedanya bukan soal berapa harganya, atau apakah barangnya "religius". Bedanya soal posisi. Kopi bernama santo meletakkan nama itu di posisi hormat yang agak konyol. Yang di baris terakhir meletakkannya di posisi yang secara sengaja bertabrakan dengan kekudusannya — dan tabrakan itulah produknya. Itu bukan salah selera. Itu tujuan desainnya.

Kenapa mediumnya boleh tidak konvensional

Kami memakai medium yang tidak semuanya biasa dipakai untuk barang rohani di Indonesia: kaos, tote, cetak risograf, kulit manusia. Tapi medium tidak pernah jadi tempat garis itu ditarik, karena kalau ditarik di situ, kaca patri dulu juga barang baru, dan cetak kayu dulu juga dianggap terlalu murah untuk gambar suci.

Garisnya ditarik di penggambarannya. Di semua barang yang kami keluarkan, berlaku hal yang sama dan tidak dinegosiasikan:

Itu sebabnya daftar tolakan kami lebih panjang daripada katalognya, dan kemungkinan besar akan terus begitu. Menolak lebih murah daripada menarik barang dari peredaran — dan jauh lebih murah daripada menjelaskan kepada seseorang kenapa benda yang ia beli untuk ibunya ternyata melewati batas.

Semua tulisan · Katalog Peziarah

PEZIARAH
KERANJANG ({{ cartCount }})
{{ resultsLabel }}
{{ r.name }} {{ r.cat }} {{ r.price }}
PEZIARAH
KERANJANG ({{ cartCount }})
JURNAL / {{ pillarLabel }}
{{ kicker }}

{{ title }}

{{ dek }}

{{ author }} · {{ date }} · {{ readLabel }}
{{ heroSlot }}
{{ photoCredit }}

{{ b.text }}

{{ b.text }}

{{ b.text }}
{{ b.slot }}
{{ b.caption }}
  • {{ it }}
{{ b.text }}
{{ r.k }} {{ r.v }}

{{ b.note }}

{{ b.text }} →
{{ author }}

{{ bio }}

Tulisan lengkapnya belum terbit di sini. Sementara ini, baca rubrik lainnya di Jurnal.

Masih di rubrik yang sama

{{ pillarLabel }}
{{ p.slot }}

{{ p.title }}

{{ p.dek }}

{{ p.date }} · {{ p.read }} MENIT
SURAT DUA MINGGUAN

Satu tulisan, satu barang, tiap dua minggu.

{{ note }}