PEZIARAH

Peta, jalan, dan bekal untuk peziarah.

Peziarah.com memetakan gua Maria dan titik doa di Indonesia, mengantar rombongan ke sana, menulis jurnal dan panduan devosinya, dan membuat bekal yang dibawa pulang. Di baliknya komunitas kolektif lintas profesi dan provinsi yang didirikan alumni Van Lith Angkatan 7 (lulusan tahun 2000), bekerja sama dengan pengrajin, seniman, tim Komsos paroki dan OMK setempat — sebuah lembaga for-profit yang bekerja sebagai bentuk pemberdayaan, dari dan untuk komunitas-komunitas yang dimaksud.

Versi singkat

Secara konkrit, Peziarah.com memetakan gua Maria dan titik doa di Indonesia, menyusun perjalanan untuk rombongan paroki, menerbitkan jurnal iman serta panduan devosi musiman, dan membuat bekal yang dibawa pulang — rosario kayu, salib dan krusifiks, perhiasan rohani, batik tulis serta tenun bermotif liturgi, wall art, dan hampers. Layanan jalannya mencakup rute rombongan, shuttle Kerkhof–Sendangsono, dan pendampingan grup kecil; barangnya dikerjakan bersama pengrajin lokal dan dikirim ke seluruh Indonesia dari Jakarta.

Peta lebih dulu, toko menyusul

Pekerjaan pertama Peziarah bukan berjualan, tapi mencatat: ratusan gua Maria dan titik doa di Indonesia tidak punya satu pun halaman yang bisa dipercaya soal akses, medan, dan jam bukanya. Kami mendatangi, memotret, dan menulis titik-titik itu, lalu meletakkannya di satu peta yang boleh dipakai siapa saja tanpa memesan apa pun.

Dari peta itu tumbuh sisanya: rute rombongan, shuttle Kerkhof–Sendangsono, pendampingan grup kecil, lalu bekal yang dibawa pulang. Urutan itu yang kami pegang — bekal mengikuti jalan, bukan sebaliknya. Pemetaannya kami kerjakan bersama tim Komsos paroki dan OMK, seniman serta pengrajin lokal.

Satu angkatan, satu sekolah di Muntilan

Peziarah dijalankan oleh Angkatan 7 SMU Van Lith, Muntilan — satu angkatan yang lulus tahun 2000 dan sejak itu tersebar ke bidang yang hampir tidak ada hubungannya satu sama lain: dokter, guru, pengacara, kontraktor, jurnalis, pegawai negeri, perawat, insinyur, imam, pemilik warung, desainer, penjual asuransi, orang tua rumah tangga.

Van Lith adalah nama imam Yesuit yang datang ke Muntilan pada 1896 dan memutuskan bahwa alat kerja iman ini bukan khotbah, tapi sekolah. Karena itu Muntilan adalah salah satu rute ziarah yang kami tulis paling panjang.

Pengrajin yang kami kerja bareng

Rosario dirangkai perajin di Ungaran dan sekitarnya. Batik tulis bermotif liturgi dikerjakan pembatik dengan hitungan hari. Tenun datang dari penenun Ende dan Sumba. Nama pengrajin ditulis di halaman produk, bukan disembunyikan.

Batas yang kami pegang

Tidak ada barang yang dijual dengan janji bahwa membelinya menambah rahmat, keberuntungan, atau perlindungan. Barang boleh mengingatkan; barang tidak boleh menggantikan.

Jurnal, panduan devosi, dan layanan jalan

Jurnal Peziarah menerbitkan empat rubrik: Cerita Produk, Cerita Iman kiriman pembaca, Catatan Ziarah, dan Editorial. Di sampingnya ada panduan devosi musiman — Bulan Rosario, Adven, Paskah — yang bisa langsung dipakai lingkungan dan sekolah, gratis. Layanan jalannya menyusun perjalanan rombongan paroki, lingkungan, sekolah, dan keluarga besar — Sendangsono, Ganjuran, Muntilan, tiga gereja tua Semarang, Puhsarang, atau rute susunan sendiri. Tanpa biaya konsultasi.

Peta & layanan ziarah · Lihat katalog · Hubungi kami

PEZIARAH
KERANJANG ({{ cartCount }})
{{ resultsLabel }}
{{ r.name }} {{ r.cat }} {{ r.price }}
PEZIARAH
KERANJANG ({{ cartCount }})

Peta, jalan, dan bekal untuk peziarah.

Peziarah.com memetakan gua Maria dan titik doa di Indonesia, mengantar rombongan ke sana, menulis jurnal dan panduan devosinya, dan membuat bekal yang dibawa pulang. Di baliknya komunitas kolektif lintas profesi dan provinsi yang didirikan alumni Van Lith Angkatan 7 (lulusan tahun 2000). Bekerja sama dengan pengrajin, seniman, tim Komsos paroki dan OMK setempat, Peziarah berdiri sebagai lembaga for-profit yang bekerja sebagai bentuk pemberdayaan — dari dan untuk komunitas-komunitas yang dimaksud.

Lambang Angkatan 7 SMU Van Lith — angka tujuh dalam bentuk lidah api ANGKATAN 7 · VAN LITH · MUNTILAN

Versi singkat

UNTUK BIO, CAPTION, DAN PRESS KIT

{{ ringkasan }}

MINTA PRESS KIT
SATU BARIS

{{ satuBaris }}

FAKTA CEPAT
{{ f.label }} {{ f.value }}

Yang kami kerjakan

EMPAT LINI: PETA, JALAN, CATATAN, BEKAL
{{ l.mark }}

{{ l.title }}

{{ l.body }}

Versi panjang

SIAPA KAMI, KENAPA ADA, DAN APA YANG TIDAK KAMI KERJAKAN

Satu angkatan, satu sekolah di Muntilan

Peziarah dijalankan oleh Angkatan 7 SMU Van Lith, Muntilan — satu angkatan yang lulus tahun 2000 dan sejak itu tersebar ke bidang yang hampir tidak ada hubungannya satu sama lain: dokter, guru, pengacara, kontraktor, jurnalis, pegawai negeri, perawat, insinyur, imam, pemilik warung, desainer, penjual asuransi, orang tua rumah tangga. Kolektif lintas disiplin dan lintas karier, dengan satu almamater sebagai penyebut yang sama.

Nama sekolahnya bukan kebetulan. Van Lith adalah nama imam Yesuit yang datang ke Muntilan pada 1896 dan memutuskan bahwa iman ini tidak boleh berdiri di Jawa sebagai lembaga asing — dan bahwa alat kerjanya bukan khotbah, tapi sekolah. Kami produk dari keputusan itu, seratus tahun kemudian.

Karena itu Muntilan adalah salah satu rute ziarah yang kami tulis paling panjang, dan kenapa toko ini berdiri lebih dekat ke ruang kelas daripada ke rak suvenir: kami lebih dulu menulis soal tempat dan barangnya, baru menjualnya.

Lambang tujuh yang menyala

Angka tujuh angkatan kami digambar sebagai lidah api — bentuk yang dipakai Gereja untuk Pentakosta, dan angka yang dalam tradisi dipakai untuk menyebut karunia Roh Kudus. Kebetulan yang terlalu bagus untuk tidak dipakai, dan sejak awal jadi lambang angkatan sebelum ada toko apa pun.

Peta lebih dulu, toko menyusul

Pekerjaan pertama Peziarah bukan berjualan, tapi mencatat. Di Indonesia ada ratusan gua Maria dan titik doa yang tidak punya satu pun halaman yang bisa dipercaya: jam bukanya kabar mulut, medannya tidak jelas untuk yang berkursi roda atau membawa orang tua, dan alamatnya berhenti di nama desa. Kami mendatangi, memotret, dan menulis titik-titik itu satu per satu, lalu meletakkannya di satu peta yang boleh dipakai siapa saja tanpa memesan apa pun.

Dari peta itu tumbuh sisanya. Yang sudah tahu tempatnya lalu perlu cara ke sana — jadi kami menyusun rute rombongan, membuka shuttle Kerkhof–Sendangsono, dan mendampingi grup kecil. Yang sudah sampai perlu sesuatu untuk dibawa pulang dan dipakai di rumah — jadi ada tokonya. Urutan itu yang kami pegang: bekal mengikuti jalan, bukan sebaliknya.

Karena kami tidak mungkin mendatangi semua titik sendiri, pekerjaan pemetaan kami kerjakan bersama tim Komsos paroki dan OMK yang sudah biasa memegang kamera, serta seniman dan pengrajin lokal yang mengenal tempatnya sejak lama. Yang mendokumentasikan wilayahnya sendiri tahu wilayahnya lebih baik daripada tamu mana pun.

Kenapa kami juga berjualan

Barang rohani Katolik di Indonesia umumnya dijual dengan dua cara: sangat murah dan diproduksi massal tanpa nama pembuatnya, atau sangat mahal dan diimpor. Yang sulit dicari adalah yang di antaranya — rosario, salib, dan perhiasan yang dikerjakan pengrajin lokal, dengan bahan yang jelas, ukuran yang jelas, dan harga yang tidak perlu ditanya lewat pesan pribadi.

Yang juga jarang: barang iman yang mau dipakai orang berumur dua puluhan tanpa merasa sedang memakai barang orang tuanya. Kami mengerjakan itu dengan sadar — grafis yang bersih, potongan kaos yang benar, warna liturgi sebagai palet, tanpa mengubah devosinya jadi lelucon.

Setiap pesanan diperiksa satu per satu sebelum dikirim: simpul rosario ditarik, sambungan logam dicek, kain dilihat di bawah cahaya. Bukan janji besar, cuma pekerjaan yang memang harus dilakukan seseorang.

Pengrajin dan studio yang kami kerja bareng

Rosario dirangkai perajin di Ungaran dan sekitarnya. Batik tulis bermotif liturgi dikerjakan pembatik dengan hitungan hari, bukan jam. Tenun datang dari penenun Ende dan Sumba — sebagian dari kampung yang jumlah penenunnya tinggal sembilan orang. Tato devosional dikerjakan satu studio mitra, dengan perbendaharaan yang dibatasi dan hak menolak permintaan ada di tangan penatonya. Nama pengrajin ditulis di halaman produk, bukan disembunyikan.

Batas yang kami pegang

Daftar barang yang kami tolak produksi lebih panjang daripada katalognya. Tidak ada barang yang dijual dengan janji bahwa membelinya menambah rahmat, keberuntungan, atau perlindungan. Barang boleh mengingatkan; barang tidak boleh menggantikan. Gambar dan lambang kudus tidak diletakkan di posisi yang tujuannya menggoda, melucu, atau merendahkan. Ayat dikutip secukupnya dengan rujukannya, tidak dipotong sampai berubah arti.

Jurnal, panduan devosi, dan layanan jalan

Jurnal Peziarah menerbitkan empat rubrik: Cerita Produk, Cerita Iman kiriman pembaca, Catatan Ziarah, dan Editorial. Di sampingnya kami menyusun panduan devosi musiman — Bulan Rosario, Adven, Paskah — dalam bentuk yang bisa langsung dipakai lingkungan, sekolah, dan keluarga, gratis, tanpa perlu membeli apa pun.

Layanan jalannya berjalan berdampingan: rute untuk rombongan paroki, lingkungan, sekolah, dan keluarga besar — Sendangsono, Ganjuran, Muntilan, tiga gereja tua Semarang, Puhsarang, atau rute yang kamu susun sendiri; shuttle Kerkhof–Sendangsono pulang-pergi untuk yang datang sendiri atau berdua; dan pendampingan grup kecil. Tanpa biaya konsultasi, dan usulan rutenya boleh kamu pakai sendiri tanpa memesan apa pun.

Kami mengirim ke seluruh Indonesia dari Jakarta, dan menerima pesanan seragam rombongan minimum 12 pcs dengan nama paroki, tanggal, dan rute tercetak di dalamnya.

SIAPA DI BALIK PEZIARAH

Kolektif lintas profesi, satu almamater.

Tidak ada kantor pusat yang megah dan tidak ada investor. Yang ada: grup alumni yang sudah dua puluh enam tahun tidak bubar, dengan keahlian yang kebetulan cukup lengkap untuk memetakan, mengantar, menulis, dan berjualan — dari yang mengurus logistik sampai yang menulis, memotret, dan memeriksa kontrak.

{{ p.mark }}

{{ p.title }}

Yang paling sering ditanya soal kami

SEMUA FAQ →

{{ t.q }}

{{ t.a }}