{{ ringkasan }}
{{ satuBaris }}
FAKTA CEPATPeziarah dijalankan oleh Angkatan 7 SMU Van Lith, Muntilan — satu angkatan yang lulus tahun 2000 dan sejak itu tersebar ke bidang yang hampir tidak ada hubungannya satu sama lain: dokter, guru, pengacara, kontraktor, jurnalis, pegawai negeri, perawat, insinyur, imam, pemilik warung, desainer, penjual asuransi, orang tua rumah tangga. Kolektif lintas disiplin dan lintas karier, dengan satu almamater sebagai penyebut yang sama.
Nama sekolahnya bukan kebetulan. Van Lith adalah nama imam Yesuit yang datang ke Muntilan pada 1896 dan memutuskan bahwa iman ini tidak boleh berdiri di Jawa sebagai lembaga asing — dan bahwa alat kerjanya bukan khotbah, tapi sekolah. Kami produk dari keputusan itu, seratus tahun kemudian.
Karena itu Muntilan adalah salah satu rute ziarah yang kami tulis paling panjang, dan kenapa toko ini berdiri lebih dekat ke ruang kelas daripada ke rak suvenir: kami lebih dulu menulis soal tempat dan barangnya, baru menjualnya.
Angka tujuh angkatan kami digambar sebagai lidah api — bentuk yang dipakai Gereja untuk Pentakosta, dan angka yang dalam tradisi dipakai untuk menyebut karunia Roh Kudus. Kebetulan yang terlalu bagus untuk tidak dipakai, dan sejak awal jadi lambang angkatan sebelum ada toko apa pun.
Barang rohani Katolik di Indonesia umumnya dijual dengan dua cara: sangat murah dan diproduksi massal tanpa nama pembuatnya, atau sangat mahal dan diimpor. Yang sulit dicari adalah yang di antaranya — rosario, salib, dan perhiasan yang dikerjakan pengrajin lokal, dengan bahan yang jelas, ukuran yang jelas, dan harga yang tidak perlu ditanya lewat pesan pribadi.
Yang juga jarang: barang iman yang mau dipakai orang berumur dua puluhan tanpa merasa sedang memakai barang orang tuanya. Kami mengerjakan itu dengan sadar — grafis yang bersih, potongan kaos yang benar, warna liturgi sebagai palet, tanpa mengubah devosinya jadi lelucon.
Setiap pesanan diperiksa satu per satu sebelum dikirim: simpul rosario ditarik, sambungan logam dicek, kain dilihat di bawah cahaya. Bukan janji besar, cuma pekerjaan yang memang harus dilakukan seseorang.
Rosario dirangkai perajin di Ungaran dan sekitarnya. Batik tulis bermotif liturgi dikerjakan pembatik dengan hitungan hari, bukan jam. Tenun datang dari penenun Ende dan Sumba — sebagian dari kampung yang jumlah penenunnya tinggal sembilan orang. Tato devosional dikerjakan satu studio mitra, dengan perbendaharaan yang dibatasi dan hak menolak permintaan ada di tangan penatonya. Nama pengrajin ditulis di halaman produk, bukan disembunyikan.
Daftar barang yang kami tolak produksi lebih panjang daripada katalognya. Tidak ada barang yang dijual dengan janji bahwa membelinya menambah rahmat, keberuntungan, atau perlindungan. Barang boleh mengingatkan; barang tidak boleh menggantikan. Gambar dan lambang kudus tidak diletakkan di posisi yang tujuannya menggoda, melucu, atau merendahkan. Ayat dikutip secukupnya dengan rujukannya, tidak dipotong sampai berubah arti.
Jurnal Peziarah menerbitkan empat rubrik: Cerita Produk, Cerita Iman kiriman pembaca, Catatan Ziarah, dan Editorial. Layanan ziarah kami menyusun perjalanan untuk rombongan paroki, lingkungan, sekolah, dan keluarga besar — Sendangsono, Ganjuran, Muntilan, tiga gereja tua Semarang, Puhsarang, atau rute yang kamu susun sendiri. Tanpa biaya konsultasi, dan usulan rutenya boleh kamu pakai sendiri tanpa memesan apa pun.
Kami mengirim ke seluruh Indonesia dari Jakarta, dan menerima pesanan seragam rombongan minimum 12 pcs dengan nama paroki, tanggal, dan rute tercetak di dalamnya.
Tidak ada kantor pusat yang megah dan tidak ada investor. Yang ada: grup alumni yang sudah dua puluh enam tahun tidak bubar, dengan keahlian yang kebetulan cukup lengkap untuk menjalankan sebuah toko — dari yang mengurus logistik sampai yang menulis, memotret, dan memeriksa kontrak.
{{ p.title }}
{{ t.a }}