Devosi bukan estetika — tapi estetika bukan dosa
Soal tuduhan bahwa toko seperti kami menjual iman sebagai gaya hidup. Sebagian tuduhannya benar.
Renata Silalahi — 21 April 2026
Tuduhannya kira-kira begini: toko seperti kami mengambil sesuatu yang seharusnya dijalani, lalu menjualnya sebagai gaya. Rosario jadi aksesori. Ayat jadi grafis. Iman jadi selera. Sebagian tuduhan itu benar, dan kami tidak akan berpura-pura tidak pernah melewati garisnya. Tapi bagian yang tidak benar — bagian yang menganggap bahwa keindahan itu sendiri yang mencurigakan — perlu dijawab, karena kalau dibiarkan, yang dibuang bukan cuma toko kami. Yang dibuang dua ribu tahun karya.
Sebelum bicara soal merch, bicara dulu soal gedungnya. Berdirilah di tengah gereja paroki mana saja di Indonesia — yang paling sederhana sekalipun — lalu hitung ada berapa karya seni di dalamnya. Bangunannya sendiri: proporsi, cahaya, arah hadap, semuanya keputusan estetis yang dibuat orang. Empat belas relief Jalan Salib di dinding. Patung Bunda Maria di sudut kiri, patung Hati Kudus di kanan. Lukisan atau mozaik di belakang altar. Kaca patri kalau anggarannya cukup, kalau tidak, kain. Salib yang dipahat, bukan disilangkan dua batang begitu saja.
Lalu yang tidak menempel di dinding: kasula yang warnanya berganti mengikuti musim liturgi, sulaman di kainnya, bentuk piala, bentuk lilin, huruf yang dipakai untuk menulis nama santo pelindung di depan gereja, dan musik — bagian seni yang paling jarang disebut seni karena kita terlanjur menyebutnya nyanyian.
Tidak ada satu pun dari itu yang dibutuhkan secara teknis. Misa sah tanpa relief. Doa didengar tanpa kaca patri. Semua itu ada karena Gereja, sejak awal sekali, memutuskan bahwa iman boleh — bahkan layak — dikerjakan dengan tangan dan mata, bukan cuma dengan mulut.
Bagian lain: Coba masuk ke gereja mana pun, lalu hitung · Tradisi yang umurnya ribuan tahun · Memindahkan seni dari gereja ke hari Senin · Lalu di mana bedanya dengan devosi
Semua tulisan · Katalog Peziarah