Ojek online tidak mau mengantar saya ke Ganjuran jam setengah empat pagi, jadi saya menginap di Bantul dan berjalan kaki dua kilometer terakhir. Jalannya gelap, kanan-kirinya sawah, dan satu-satunya yang bergerak selain saya adalah orang yang menyalakan lampu warung soto di pertigaan. Ia melihat saya lewat, menebak arah saya, dan menyebut satu kata: "Candi?" Saya mengangguk. Ia bilang misanya jam lima, jangan buru-buru.
Ternyata ia benar. Saya sampai jam empat kurang sedikit, dan selama hampir satu jam kompleks itu praktis milik saya sendiri.
Yang bikin Ganjuran berbeda dari gua Maria mana pun
Hampir semua tempat ziarah Katolik di Jawa punya bentuk yang bisa diduga: gua batu, patung Bunda Maria dalam jubah biru-putih, deretan bangku, lilin. Ganjuran tidak begitu. Di tengah kompleksnya berdiri sebuah candi — bentuk, proporsi, dan susunan batunya mengikuti candi Hindu-Jawa, lengkap dengan undakan dan bilik di puncaknya. Di dalam bilik itu ada arca Hati Kudus Yesus yang dipahat sebagai raja Jawa: bersila, memakai mahkota Jawa, dengan tangan yang menunjuk ke hatinya.
Candi ini dibangun keluarga Schmutzer pada 1924, pemilik pabrik gula di Gondanglipuro. Keputusan mereka bukan sekadar selera arsitektur. Mereka memilih untuk tidak mengimpor bentuk Eropa ke tanah yang sudah punya bahasa rupanya sendiri — dan hasilnya, seratus tahun kemudian, masih terasa lebih berani daripada hampir semua bangunan gereja yang dibuat sesudahnya.
Saya besar dengan gambar Hati Kudus versi cetakan Eropa: wajah pucat, rambut panjang, latar emas. Di Ganjuran wajah itu punya bentuk mata yang sama dengan wajah orang-orang di halte bus Yogyakarta.
Gempa 2006 merusak berat gedung gerejanya. Candi batunya bertahan. Kalau kamu datang sekarang, gereja yang kamu lihat adalah bangunan pengganti — lebih terbuka, lebih banyak angin, dan sengaja dibuat tidak menyaingi candi di sebelahnya.
Jam empat sampai jam lima
Ini bagian yang tidak bisa saya dapatkan kalau ikut bus. Antara jam empat dan lima, yang ada di kompleks itu cuma beberapa orang: satu bapak yang duduk di undakan candi tanpa bersuara selama empat puluh menit, dua perempuan yang berdoa rosario dengan suara sangat kecil, dan satu petugas yang menyapu tanpa menyalakan lampu tambahan.
Tidak ada yang mengatur siapa duduk di mana. Tidak ada antrean untuk naik ke bilik. Kamu naik kalau tidak ada orang di atas, dan turun kalau merasa sudah cukup. Sistem itu berjalan sendiri tanpa satu pun petunjuk tertulis, dan runtuh total begitu bus pertama masuk sekitar jam setengah tujuh.
Jam lima misa dimulai. Kalau kebetulan hari itu Misa Jawa, gamelan yang mengiringi bukan tempelan budaya untuk turis — jemaatnya menyanyi hafal, dan yang paling hafal justru yang paling tua.
Tirta Perwitasari, dan apa yang sebaiknya tidak kamu harapkan
Di sisi kompleks ada sumber air yang disebut Tirta Perwitasari. Orang membawa jeriken, botol, kadang derigen dua puluh liter. Antreannya bisa panjang di akhir pekan; jam lima pagi hari Selasa, tidak ada antrean sama sekali.
Saya perlu menulis ini terang-terangan: airnya air. Yang membuat orang datang bukan kandungan mineralnya, dan tidak ada yang menjanjikan apa pun kepada siapa pun. Kalau ada orang di sekitar situ yang menjual sesuatu dengan janji hasil tertentu, itu urusan dagang orang tersebut, bukan bagian dari tempatnya.
- Datang jam empat kalau mau sepi, jam lima kalau mau misa, jam tujuh kalau mau ramai dan hidup.
- Bawa botol sendiri kalau berniat mengambil air. Tidak ada yang menjual botol jam empat pagi.
- Lepas sandal sebelum naik undakan candi. Tidak ada yang menegur, tapi semua orang melakukannya.
- Malam sebelumnya menginap di Bantul atau Yogyakarta selatan — bukan di kota, kecuali kamu siap berangkat jam tiga.
- Lokasi
- Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, DIY
- Dari Yogyakarta
- ± 20 km, 45 menit lewat Jalan Bantul
- Misa harian
- Subuh; Misa Jawa dengan gamelan pada jadwal tertentu — konfirmasi ke paroki
- Waktu tenang
- 04.00–06.30 hari kerja
- Biaya
- Tanpa tiket; kotak persembahan di dekat candi
- Digabung dengan
- Sendangsono (beda arah, tambah satu hari) atau pantai selatan Bantul
Yang saya bawa pulang dari Ganjuran bukan air. Yang saya bawa pulang adalah satu hal yang selalu saya tahu tapi tidak pernah saya lihat sejelas itu: iman ini tidak datang ke Jawa untuk mengganti Jawa. Di kompleks seluas itu, dua bahasa rupa berdiri di atas fondasi yang sama, dan tidak ada satu pun yang tampak sedang mengalah.