Ganjuran, jam empat pagi
Sebelum peziarah lain datang, candi itu terasa seperti milik siapa pun yang mau bangun paling pagi.
Yosef Adiputra — 27 Mei 2026
Ojek online tidak mau mengantar saya ke Ganjuran jam setengah empat pagi, jadi saya menginap di Bantul dan berjalan kaki dua kilometer terakhir. Jalannya gelap, kanan-kirinya sawah, dan satu-satunya yang bergerak selain saya adalah orang yang menyalakan lampu warung soto di pertigaan. Ia melihat saya lewat, menebak arah saya, dan menyebut satu kata: "Candi?" Saya mengangguk. Ia bilang misanya jam lima, jangan buru-buru.
Ternyata ia benar. Saya sampai jam empat kurang sedikit, dan selama hampir satu jam kompleks itu praktis milik saya sendiri.
Hampir semua tempat ziarah Katolik di Jawa punya bentuk yang bisa diduga: gua batu, patung Bunda Maria dalam jubah biru-putih, deretan bangku, lilin. Ganjuran tidak begitu. Di tengah kompleksnya berdiri sebuah candi — bentuk, proporsi, dan susunan batunya mengikuti candi Hindu-Jawa, lengkap dengan undakan dan bilik di puncaknya. Di dalam bilik itu ada arca Hati Kudus Yesus yang dipahat sebagai raja Jawa: bersila, memakai mahkota Jawa, dengan tangan yang menunjuk ke hatinya.
Bagian lain: Yang bikin Ganjuran berbeda dari gua Maria mana pun · Jam empat sampai jam lima · Tirta Perwitasari, dan apa yang sebaiknya tidak kamu harapkan
Semua tulisan · Rute Ziarah · Katalog Peziarah