Bengkelnya tidak ada tandanya. Rumah biasa di gang sempit di Muntilan, pintu kayu dibuka setengah, dan di ruang depan yang seharusnya jadi ruang tamu ada empat baskom manik kayu, satu tang, dan satu kursi rotan yang jelas sudah lama tidak dipindah. Pak Sujadi merangkai rosario di kursi itu sejak 1987.
Kami datang dua hari, bukan satu, karena hari pertama hampir seluruhnya habis untuk hal yang tidak bisa dilewati: duduk, minum teh yang terlalu manis, dan mendengar kenapa ia tidak mau menambah karyawan.
Menghitung dengan telinga
Yang pertama membuat kami berhenti mencatat adalah caranya menghitung. Satu rosario butuh 59 manik. Pak Sujadi tidak pernah melihat baskomnya saat mengambil. Tangannya masuk, keluar dengan segenggam, lalu manik-manik itu jatuh satu per satu ke tampah kayu — dan ia berhenti tepat di angka yang benar, karena bunyi manik ke-59 berbeda dari manik ke-58.
Kami tidak percaya, jadi kami hitung ulang. Tiga kali. Tiga kali benar. Keempat kalinya ia keliru satu, dan ia sendiri yang bilang “kurang satu” sebelum kami selesai menghitung.
Kalau saya lihat, saya jadi ragu. Kalau saya dengar, tidak.

Dari balok jadi rosario
Kayunya datang dari perajin bubut di kampung sebelah, bukan dari Pak Sujadi sendiri. Ini penting untuk dipahami kalau kamu membeli rosario kayu di mana pun: hampir tidak ada satu orang yang mengerjakan seluruh prosesnya.
- Balok sonokeling dipotong dan dibubut jadi manik bulat — dikerjakan tetangganya, satu keluarga, dengan mesin bubut kaki.
- Manik diampelas dua kali, halus lalu sangat halus, tanpa lapisan kimia apa pun.
- Lubang dibor ulang kalau miring. Yang miring lebih dari sedikit dibuang, bukan dipakai.
- Rangkaian dikerjakan dengan rantai kuningan atau benang lilin, tergantung pesanan.
- Salib dan medali datang dari pemasok di Semarang — ini bagian yang paling tidak romantis dari seluruh rantai.
- Mulai merangkai
- 1987, awalnya untuk toko devosional di depan gereja
- Kapasitas
- 12–18 rosario per hari kalau bahan lengkap
- Orang yang terlibat
- Pak Sujadi, istrinya, satu keluarga pembubut, satu pemasok logam
- Bahan utama
- Sonokeling dan kayu jati sisa mebel
- Yang paling lama
- Bukan merangkai — menunggu manik kering setelah diampelas
Kenapa ia menolak menambah orang
Pertanyaan kami di hari kedua terdengar seperti pertanyaan konsultan: kalau permintaan naik, kenapa tidak menambah dua orang? Jawabannya tidak sentimental. Ia pernah mencoba, tahun 2011, dan dua bulan kemudian ada rosario yang lubangnya miring keluar dari bengkelnya. Yang mengembalikan bukan tokonya, tapi satu ibu dari paroki yang mengenalnya.
“Yang saya jual bukan rosario,” katanya, “yang saya jual nama saya.” Kalimat itu terdengar seperti bahan iklan, dan kami sempat ragu menuliskannya. Tapi ia mengatakannya sambil membuang tiga manik ke keranjang bawah meja, jadi kami anggap itu bukan slogan.
Yang kami ubah setelah dua hari itu
Kami datang untuk menaikkan volume pesanan. Kami pulang dengan kesepakatan yang berlawanan: batch tetap kecil, maksimal 40 rosario sekali pesan, dan tanggal kirim ditentukan olehnya, bukan oleh kalender kampanye kami. Harga naik sekitar dua belas persen dari kesepakatan awal — permintaan kami, bukan permintaannya.
Konsekuensinya jelas dan tidak nyaman: rosario sonokeling di katalog kami akan sering habis, dan kami tidak akan berpura-pura itu strategi kelangkaan. Itu cuma satu orang di satu kursi rotan di Muntilan.