Kalau kamu pernah ikut ziarah rombongan di Jawa Tengah, kemungkinan besar bus kamu berhenti di Muntilan — biasanya untuk makan, kadang untuk mampir ke satu museum yang durasi kunjungannya dijatah dua puluh menit. Saya termasuk yang pernah mendapat dua puluh menit itu, dan kembali sendiri empat tahun kemudian karena merasa dibohongi oleh jadwal.
Museum Misi Muntilan berdiri di kompleks yang dulunya sekolah. Bangunannya rendah, lantainya ubin, dan tidak ada satu pun bagian yang berusaha membuat kamu terkesan. Tapi hampir semua rute ziarah Katolik Jawa, kalau ditarik ke belakang, bermuara di halaman ini.
Satu orang, dan keputusan yang tidak populer
Franciscus Georgius Josephus van Lith — di Jawa orang cukup menyebutnya Frans van Lith — imam Yesuit Belanda, datang ke Muntilan pada 1896. Yang ia temukan adalah pekerjaan misi yang jalan di tempat: sedikit orang Jawa yang tertarik, dan kebanyakan yang tertarik pun mendekat karena alasan praktis, bukan karena percaya.
Kesimpulan yang ia ambil kemudian menjadi alasan kenapa namanya masih disebut hari ini, dan waktu itu bukan kesimpulan yang disukai atasannya: kalau Gereja mau berakar di Jawa, ia tidak boleh berdiri sebagai lembaga asing yang menawarkan bantuan. Ia harus masuk ke dalam bahasa, adat, dan cara berpikir Jawa — dan cara paling ampuh untuk itu bukan khotbah, tapi sekolah.
Van Lith belajar bahasa Jawa sampai tingkat yang bikin orang Jawa sendiri kaget, termasuk tingkat tutur halusnya. Ia mendirikan sekolah guru di Muntilan. Bukan sekolah untuk mencetak umat, tapi untuk mencetak guru — orang Jawa yang mengajar orang Jawa, dengan kualitas yang tidak bisa diremehkan penjajah.
Ia tidak menanam pohon. Ia menanam orang yang menanam pohon — dan itu sebabnya hasilnya baru kelihatan setelah ia mati.

Yang keluar dari sekolah itu
Daftar alumni sekolah guru Muntilan adalah alasan kenapa museum ini penting melampaui minat rohani. Dari lingkungan inilah keluar Albertus Soegijapranata, yang kemudian menjadi uskup pertama berkebangsaan Indonesia dan tokoh yang berdiri di sisi Republik pada masa paling genting. Dari lingkungan yang sama keluar I.J. Kasimo, politikus yang memimpin partai Katolik dan duduk di kabinet Indonesia awal.
Artinya taruhan van Lith terbayar dengan cara yang bahkan lebih besar dari niat awalnya. Sekolah yang ia bangun untuk mencetak guru desa ikut mencetak orang yang menulis sejarah republik.
Di museum, bagian ini disajikan dengan cara yang sangat tidak dramatis: foto hitam-putih, papan keterangan yang dicetak sederhana, beberapa benda liturgi, mesin cetak lama, dan koleksi yang dikumpulkan dari paroki-paroki tua sekitarnya. Tidak ada layar sentuh, tidak ada tata cahaya. Kalau kamu datang dengan harapan museum modern, kamu akan kecewa. Kalau kamu datang untuk membaca, dua puluh menit sama sekali tidak cukup.



Makam di belakang
Van Lith meninggal pada 1926 dan dimakamkan di Muntilan, di kompleks yang sama. Makamnya sederhana sekali — jauh lebih sederhana daripada makam banyak orang yang jasanya jauh lebih kecil.
Saya berdiri di sana cukup lama, dan yang mengganggu saya bukan haru, tapi hitungan: ia bekerja tiga puluh tahun untuk sesuatu yang hasilnya sebagian besar baru terjadi setelah ia tidak ada. Ia tidak melihat Soegijapranata jadi uskup. Ia tidak melihat republik ini ada.
Orang yang berdoa di makam ini biasanya diam saja. Tidak ada nazar yang ditempel, tidak ada bunga yang dijual di depan. Ada satu buku tamu, dan tulisan tangan di dalamnya sebagian besar dari rombongan pelajar.
Kenapa Muntilan biasanya digabung dengan Sendangsono
Bukan kebetulan kalau dua tempat ini selalu masuk itinerary yang sama. Pada Desember 1904, di mata air Sendangsono, van Lith membaptis kelompok besar orang Jawa dari Kalibawang — jumlah yang biasa dicatat seratus tujuh puluh satu orang. Sendangsono adalah tempat kejadiannya; Muntilan adalah tempat pekerjaan yang membuat kejadian itu mungkin.
Kalau harus memilih urutan, datang ke Muntilan dulu, lalu Sendangsono. Terbalik pun bisa, tapi Sendangsono terasa berbeda kalau kamu sudah tahu siapa yang berdiri di air itu dan apa yang ia kerjakan selama delapan tahun sebelumnya.
- Alokasikan minimal satu jam untuk museumnya, dua jam kalau kamu tipe pembaca papan keterangan.
- Hari Senin dan hari besar sering tutup — telepon dulu, jangan andalkan informasi di internet.
- Bawa uang tunai kecil untuk sumbangan dan parkir.
- Muntilan juga kota kuliner — soto dan tahu di sekitar pasar lebih baik daripada rumah makan yang biasa dipakai bus.
- Lokasi
- Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah
- Dari Yogyakarta
- ± 25 km, 45–60 menit lewat Jalan Magelang
- Dari Sendangsono
- ± 11 km, 30 menit
- Jam buka
- Pagi sampai sore; tutup pada hari tertentu — konfirmasi dulu
- Biaya
- Sumbangan sukarela
- Cocok untuk
- Rombongan sekolah, katekis, siapa pun yang mau sejarah sebelum devosi
Rute ziarah paling sering dijual sebagai perjalanan ke tempat-tempat yang tenang. Muntilan bukan itu. Muntilan adalah tempat kerja — dan kalau kamu berdiri di halaman sekolahnya cukup lama, yang muncul bukan ketenangan, tapi pertanyaan yang agak mengganggu soal apa yang sedang kamu bangun yang hasilnya baru kelihatan setelah kamu tidak ada.