Ada dua cara sampai ke Puhsarang. Yang pertama seperti kebanyakan orang: naik kendaraan dari Kediri kota, masuk ke kompleks, langsung ke Gua Maria Lourdes, foto, lalu pulang. Yang kedua: masuk lewat gerejanya dulu, dan berdiri di dalamnya sampai kamu sadar bahwa bangunan itu seharusnya tidak bisa berdiri.
Saya sarankan cara kedua, karena Gua Marianya baru dibangun akhir 1990-an sementara gerejanya dari 1936 — dan gerejanya adalah alasan sebenarnya kenapa tempat ini penting.
Orang yang merancangnya bukan arsitek gereja
Henri Maclaine Pont lebih dulu dikenal sebagai perancang kampus teknik di Bandung — bangunan besar dengan atap yang mengambil bentuk lokal dan konstruksi yang memaksa orang memikirkan ulang apa yang bisa dilakukan bahan sederhana. Ia bukan spesialis bangunan ibadat.
Di Puhsarang ia mengerjakan sesuatu yang lebih ekstrem daripada gaya. Batu-batu penyusun gereja ini disusun tanpa semen portland sebagai pengikat utama — mengandalkan bentuk batu, perhitungan tekanan, dan adukan kapur. Artinya bangunan ini berdiri karena geometri, bukan karena lem.
Kalau kamu pernah melihat foto interiornya dan merasa bentuk atapnya aneh, itu bukan kesalahan lensa. Bentuknya memang tidak mengikuti langgam gereja Eropa mana pun; orang menggambarkannya bermacam-macam — perahu, joglo terbalik, mulut gua. Semuanya salah sedikit dan benar sedikit, yang biasanya tanda bahwa perancangnya tidak sedang mengutip siapa-siapa.
Bangunan ini tidak berdiri karena semen. Ia berdiri karena seseorang menghitung dengan sangat teliti ke arah mana beban ingin jatuh, lalu tidak melawannya.
Pieta, dan bagian yang paling sering dilewati
Di kompleks ini ada Pieta yang menurut saya adalah karya terbaik di seluruh area, dan justru itu yang paling sering dilewati rombongan karena letaknya tidak di jalur foto. Tubuh Kristus di pangkuan ibunya dikerjakan dengan proporsi yang tidak manis — dan justru karena tidak manis, ia bekerja.
Saya berdiri di depannya bersama satu orang lain, bapak berumur enam puluhan, yang setelah beberapa menit bicara tanpa saya tanya: anaknya meninggal tahun lalu. Ia tidak minta tanggapan, dan saya tidak memberi. Kami berdiri saja beberapa menit lagi, lalu ia pergi.
Jalan salib di lereng
Bagian yang menuntut fisik adalah jalan salib yang menanjak di lereng bukit. Empat belas perhentian, jarak antar-perhentian cukup jauh, dan tanahnya bisa licin kalau hujan turun sore sebelumnya. Untuk rombongan campur usia, ini titik yang paling perlu direncanakan: sebagian akan berhenti di perhentian keenam atau ketujuh, dan itu tidak masalah selama sejak awal tidak ada yang menjanjikan bahwa semua orang harus sampai atas.
Saya jalan pagi, sekitar jam tujuh, dan sampai perhentian terakhir dengan kaus yang sudah basah seluruhnya. Dari atas, yang kelihatan bukan pemandangan spektakuler — cuma kompleks di bawah, atap gerejanya, dan Kediri di kejauhan. Nilainya ada di jalannya, bukan di puncaknya.
Gua Maria Lourdes, dan soal keramaian
Gua Marianya besar, terawat, dan sangat ramai pada akhir pekan, Mei, dan Oktober. Ada area yang cukup luas untuk misa rombongan, tempat lilin, dan pedagang di luar gerbang. Kalau kamu datang mencari keheningan pada hari Sabtu, kamu salah hari — bukan salah tempat.
Saya justru tidak keberatan pada bagian ini. Kompleks seperti ini memang dibangun untuk menampung banyak orang, dan menuntut kesunyian dari tempat yang tugasnya menampung ribuan peziarah adalah tuntutan yang tidak adil. Kalau butuh sepi, datang Selasa pagi dan mulai dari gerejanya.
- Masuk dari gereja 1936, bukan langsung ke gua. Urutannya mengubah seluruh kunjungan.
- Jalan salib pagi sebelum jam delapan, atau sore setelah jam empat. Jangan tengah hari.
- Sepatu bersol kasar untuk lereng; sandal jepit ide buruk.
- Cari Pieta-nya dan sisakan sepuluh menit untuk berdiri di depannya.
- Rombongan yang mau misa harus memesan jadwal lebih dulu — jangan datang dan berharap dapat slot.
- Lokasi
- Puhsarang, Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur
- Dari Kediri kota
- ± 10 km, 25 menit
- Dari Surabaya
- ± 130 km, 3 jam
- Waktu ideal
- 2 hari 1 malam kalau digabung jalan salib penuh dan misa rombongan
- Waktu tenang
- Selasa–Kamis pagi; puncak Mei & Oktober dan setiap akhir pekan
- Biaya
- Tanpa tiket masuk; parkir dan sumbangan tunai
- Catatan medan
- Lereng jalan salib tidak ramah kursi roda; area gua datar dan bisa diakses
Yang membuat saya kembali ke Puhsarang bukan gua batunya, dan bukan juga jalan salibnya. Yang membuat saya kembali adalah bangunan tahun 1936 yang berdiri tanpa semen selama hampir sembilan puluh tahun karena seseorang memutuskan untuk memahami bahan yang ada di tempat itu, bukan mengimpor bahan yang lebih mudah. Itu, kalau dipikir agak lama, bukan cuma soal teknik bangunan.