Sendangsono tanpa rombongan
Datang sendiri di hari kerja, tanpa bus, tanpa jadwal. Catatan perjalanan yang tidak direncanakan.
Maria Kusumaningrum — 14 Juni 2026
Bus peziarah berangkat dari paroki jam lima pagi hari Sabtu, dan saya sudah tiga kali membatalkan ikut. Bukan karena tidak mau ke Sendangsono. Karena saya tidak yakin bisa berdoa sambil dihitung: empat puluh dua orang, satu koordinator, satu pengeras suara, dan jadwal yang harus selesai sebelum makan siang di Muntilan.
Jadi saya datang sendiri, hari Selasa, naik bus kota sampai Muntilan lalu menyewa ojek yang tarifnya ditawar di depan pasar. Tukang ojeknya bertanya rombongan saya di mana. Saya bilang tidak ada. Ia mengangguk seperti sudah sering mengantar orang yang menjawab begitu.
Sendangsono di hari kerja hampir tidak bersuara. Bukan sunyi — ada air yang jatuh terus dari mata air di bawah gua, ada anak-anak sekolah yang lewat di jalan atas, ada satu ibu yang menyapu daun sono dengan sapu ijuk dan tidak berhenti selama satu jam penuh saya di sana. Tapi tidak ada pengeras suara. Tidak ada yang memimpin doa. Tidak ada yang memberi tahu kapan waktunya pindah ke perhentian berikutnya.
Awalnya itu justru bikin gugup. Saya berdiri di perhentian pertama Jalan Salib selama mungkin dua menit tanpa tahu harus apa, karena selama ini yang menentukan kapan saya selesai berdoa adalah orang lain.
Bagian lain: Yang berubah kalau tidak ada rombongan · Batu, air, dan pohon sono · Pulang tanpa cerita bus
Semua tulisan · Katalog Peziarah