Bus peziarah berangkat dari paroki jam lima pagi hari Sabtu, dan saya sudah tiga kali membatalkan ikut. Bukan karena tidak mau ke Sendangsono. Karena saya tidak yakin bisa berdoa sambil dihitung: empat puluh dua orang, satu koordinator, satu pengeras suara, dan jadwal yang harus selesai sebelum makan siang di Muntilan.
Jadi saya datang sendiri, hari Selasa, naik bus kota sampai Muntilan lalu menyewa ojek yang tarifnya ditawar di depan pasar. Tukang ojeknya bertanya rombongan saya di mana. Saya bilang tidak ada. Ia mengangguk seperti sudah sering mengantar orang yang menjawab begitu.
Yang berubah kalau tidak ada rombongan
Sendangsono di hari kerja hampir tidak bersuara. Bukan sunyi — ada air yang jatuh terus dari mata air di bawah gua, ada anak-anak sekolah yang lewat di jalan atas, ada satu ibu yang menyapu daun sono dengan sapu ijuk dan tidak berhenti selama satu jam penuh saya di sana. Tapi tidak ada pengeras suara. Tidak ada yang memimpin doa. Tidak ada yang memberi tahu kapan waktunya pindah ke perhentian berikutnya.
Awalnya itu justru bikin gugup. Saya berdiri di perhentian pertama Jalan Salib selama mungkin dua menit tanpa tahu harus apa, karena selama ini yang menentukan kapan saya selesai berdoa adalah orang lain.
Ternyata saya tidak pernah tahu berapa lama saya sendiri butuh untuk satu perhentian. Jawabannya, hari itu, jauh lebih lama dari yang disediakan bus.
Batu, air, dan pohon sono
Kompleksnya dibangun dari bahan yang tidak berusaha terlihat suci: batu kali yang disusun tangan, kayu, dan tanah. Tidak ada satu pun permukaan yang memantulkan cahaya. Untuk tempat yang menampung ribuan peziarah setiap Mei dan Oktober, Sendangsono anehnya tidak berteriak.
Di bawah gua ada mata air yang memberi nama tempat ini — sendang, dan pohon sono yang tumbuh di sekitarnya. Di air inilah, pada Desember 1904, Romo van Lith membaptis kelompok pertama orang Jawa dari daerah ini. Sebagian peziarah membawa jeriken. Saya cuma membasahi tangan, dan merasa agak turis karena itu.
- Bawa uang kecil. Lilin, air, dan parkir semua dibayar tunai, tidak ada yang menyodorkan QRIS.
- Sandal yang bisa basah. Batu di dekat sendang licin sepanjang tahun.
- Kalau mau sepi: Selasa sampai Kamis, sebelum jam sepuluh. Hindari Mei dan Oktober kalau kamu tidak tahan ramai.
- Lokasi
- Banjaroya, Kalibawang, Kulon Progo, DIY
- Dari Yogyakarta
- ± 40 km, 1,5 jam lewat Jalan Godean–Nanggulan
- Dari Muntilan
- ± 11 km, ojek atau taksi online (sinyal tipis di kembalinya)
- Waktu tenang
- Selasa–Kamis pagi; puncak peziarah Mei & Oktober
- Biaya
- Tanpa tiket; kotak persembahan di dekat gua
Pulang tanpa cerita bus
Yang hilang kalau datang sendiri: tidak ada yang menyanyi di jalan pulang, tidak ada bekal yang dibagi, tidak ada orang yang bercerita soal nazar yang terkabul sambil bus menikung. Ziarah memang aslinya dilakukan bersama-sama, dan saya tidak mau berpura-pura bahwa versi sendiri lebih murni.
Tapi ada satu hal yang cuma bisa saya dapat hari Selasa itu: saya tahu berapa lama saya berhenti di perhentian kesebelas, dan tidak ada satu orang pun yang menunggu saya di parkiran.
Kalau kamu sudah lama ingin pergi tapi selalu batal karena rombongannya penuh — pergi saja sendiri. Bawa rosario yang sudah kamu punya. Tidak perlu yang baru.