PEZIARAH

Tenun Ende yang hampir hilang

Dari 40 penenun di satu kampung, tinggal sembilan. Delapan di antaranya berusia di atas 60.

Maria Kusumaningrum · 3 Mei 2026 · 14 menit baca

Di satu kampung di Ende, Flores, dulu ada sekitar empat puluh penenun. Sekarang sembilan. Delapan di antaranya berusia di atas enam puluh. Angka itu bukan hasil sensus resmi — itu hitungan Mama Yuliana, yang menyebut nama mereka satu per satu sambil menekuk jari, dan berhenti karena jarinya kurang untuk yang sudah meninggal.

Kami datang untuk membeli tenun. Kami tidak menyangka pulang dengan pertanyaan yang jauh lebih tidak enak: apakah membeli itu cukup.

Empat bulan untuk satu lembar

Satu sarung tenun ikat penuh — yang motifnya dihitung, bukan diulang bebas — butuh tiga sampai empat bulan kalau dikerjakan di antara pekerjaan lain, dan hampir semua penenun mengerjakannya di antara pekerjaan lain: kebun, cucu, dan ibadat lingkungan.

Anak saya bisa menenun. Ia tidak mau menenun. Dua hal itu berbeda, dan yang kedua bukan salahnya.
— Mama Yuliana, penenun
Alat tenun gedog. Tegangan benang ditahan punggung penenun — sebabnya bekerja lebih dari dua jam berturut-turut hampir tidak mungkin.

Kenapa harganya bukan tanda kesejahteraan

Tenun ikat Ende dijual mahal di Jakarta. Itu benar. Yang tidak selalu benar adalah kesimpulan berikutnya — bahwa penenunnya ikut mahal. Rantai antara kampung dan galeri bisa berisi tiga sampai lima tangan, dan margin terbesar biasanya bukan di tangan yang menenun.

Kami tidak berpura-pura sudah memperbaiki itu. Yang kami lakukan cuma tiga: membeli langsung, membayar di muka penuh sebelum kain dikerjakan, dan menuliskan berapa yang sampai ke penenun. Untuk syal tenun di katalog kami, bagian penenun ada di kisaran 55–60 persen dari harga jual sebelum ongkos kirim.

BEKAL ANGKA
Penenun aktif di kampung itu
9, delapan di antaranya di atas 60 tahun
Waktu satu sarung ikat penuh
3–4 bulan, dikerjakan di antara pekerjaan lain
Pewarna
Mengkudu (merah tanah), indigo (biru gelap)
Yang kami beli
Syal dan outer — bukan sarung upacara, yang bukan barang dagangan
Bagian penenun
55–60% dari harga jual, dibayar penuh di muka

Yang tidak kami jual

Ada tenun yang dipakai untuk kematian, perkawinan, dan penerimaan tamu adat. Kami tidak membelinya, tidak memotongnya jadi produk, dan tidak menawarkannya sebagai “edisi terbatas”. Bukan karena mahal — karena bukan milik kami untuk dijual.

Kalau motif tertentu ditolak Mama Yuliana untuk kami, kami tidak bertanya dua kali. Sejauh ini itu terjadi tiga kali.

Apa yang sebenarnya dibutuhkan

Membeli menahan; membeli tidak menyelamatkan. Yang bisa membuat jumlah penenun berhenti menyusut cuma satu: ada anak muda yang melihat menenun sebagai pekerjaan yang bisa menghidupi, bukan sebagai warisan yang wajib dihormati.

Itu artinya pesanan yang bisa diprediksi, bukan pesanan besar yang datang sekali lalu hilang setahun. Kami sedang mencoba yang pertama, dengan pesanan terjadwal dua kali setahun. Terlalu dini untuk menyebutnya berhasil.

Semua tulisan · Katalog Peziarah

PEZIARAH
KERANJANG ({{ cartCount }})
{{ resultsLabel }}
{{ r.name }} {{ r.cat }} {{ r.price }}
PEZIARAH
KERANJANG ({{ cartCount }})
JURNAL / {{ pillarLabel }}
{{ kicker }}

{{ title }}

{{ dek }}

{{ author }} · {{ date }} · {{ readLabel }}
{{ heroSlot }}

{{ b.text }}

{{ b.text }}

{{ b.text }}
{{ b.slot }}
{{ b.caption }}
  • {{ it }}
{{ b.text }}
{{ r.k }} {{ r.v }}
{{ author }}

{{ bio }}

Tulisan lengkapnya belum terbit di sini. Sementara ini, baca rubrik lainnya di Jurnal.

Masih di rubrik yang sama

{{ pillarLabel }}
{{ p.slot }}

{{ p.title }}

{{ p.dek }}

{{ p.date }} · {{ p.read }} MENIT
SURAT DUA MINGGUAN

Satu tulisan, satu barang, tiap dua minggu.

{{ note }}