Rencananya sederhana: jalan kaki, tiga gereja, satu hari, tanpa naik apa pun kecuali kaki sendiri. Total 6,4 kilometer menurut ponsel saya, meskipun angka itu naik jadi hampir delapan karena dua kali salah jalan dan satu kali berhenti karena tidak tahan bau soto.
Semarang cocok untuk ini karena bangunan tuanya berkumpul, bukan tersebar. Dan tiga gereja yang saya pilih hari itu dibangun pada tiga zaman yang berbeda, oleh tiga kelompok yang tidak sedang bicara satu sama lain.
Pukul 07.10 — Gereja Blenduk, dan kejujuran soal rute ini
Saya mulai dari Kota Lama, dari bangunan berkubah yang semua orang sebut Gereja Blenduk. Perlu saya sebut sejak awal supaya rutenya jujur: Blenduk bukan gereja Katolik. Ia gereja Protestan, GPIB Immanuel, dan berdiri di sini sejak pertengahan abad ke-18 — bangunan yang kita lihat sekarang hasil perombakan besar setelahnya.
Saya memasukkannya bukan untuk menambah angka, tapi karena tidak mungkin bicara soal bagaimana iman Kristen masuk ke kota ini tanpa berdiri di depan bangunan tertua yang masih dipakai. "Blenduk" sendiri artinya kubah, dan namanya diberi orang di luar gerejanya — sebuah bangunan yang dinamai oleh tetangganya, bukan oleh pemiliknya.
Jam tujuh pagi, Kota Lama masih setengah bangun. Kubah tembaganya kelihatan bagus dari sudut manapun, yang menjelaskan kenapa separuh orang di halaman itu sedang sesi foto pranikah.
Pukul 09.30 — St. Yusuf Gedangan
Dari Kota Lama saya jalan ke arah selatan, melewati jalan yang trotoarnya berhenti dan mulai tanpa pola, sampai ke Gedangan. Gereja St. Yusuf berdiri di sini sejak 1875 dan merupakan gereja Katolik tertua di Semarang.
Ini bagian rute yang paling sedikit difoto orang, dan menurut saya yang paling bagus. Di dalamnya gelap dan tinggi, kayunya banyak, dan pagi itu ada satu orang yang mengelap bangku satu per satu tanpa terlihat sedang mengejar waktu. Tidak ada tiket, tidak ada petugas yang menyambut, tidak ada yang menganggap kedatangan saya sebagai peristiwa.
Saya duduk dua puluh menit dan tidak ada satu pun orang lain masuk. Di kota berpenduduk satu setengah juta, itu terasa seperti kesalahan administrasi yang menguntungkan saya.
Gereja tertua di kota ini adalah satu-satunya perhentian hari itu yang tidak dijaga siapa pun, tidak dijual siapa pun, dan tidak diantre siapa pun.
Pukul 11.15 — soto, dan bagian yang tidak bisa dihindari
Jarak Gedangan ke Randusari kira-kira dua kilometer, menanjak, dan matahari Semarang pukul sebelas tidak bisa dinegosiasikan. Di antaranya saya berhenti di warung soto — soto Semarang, kuah bening, potongan ayam, dengan sate kerang di piring kecil yang selalu terlihat lebih banyak dari yang kamu niatkan.
Saya menulis bagian ini karena rute jalan kaki di kota tropis gagal bukan karena jaraknya, tapi karena orang meremehkan berapa kali ia perlu berhenti. Hitung tiga perhentian, bukan satu.
Pukul 13.00 — Katedral Randusari
Perhentian terakhir: Gereja Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci di Randusari, katedral Keuskupan Agung Semarang, dibangun akhir 1920-an. Kalau Gedangan gelap dan intim, Randusari terang dan tegas — bangunan yang dibuat untuk menampung, bukan untuk menyelipkan.
Di sini saya berpapasan dengan kelompok pertama sepanjang hari: satu keluarga yang jelas sedang mengurus jadwal baptis, dan dua remaja yang duduk di belakang dengan tas sekolah masih di punggung.
Tiga gereja itu, kalau ditaruh berurutan, tidak menyusun satu cerita yang rapi. Yang pertama Protestan dan dinamai orang luar. Yang kedua Katolik dan hampir tidak terlihat. Yang ketiga pusat keuskupan dan paling sibuk. Mereka dibangun dengan alasan berbeda, oleh orang berbeda, dan tidak satu pun dirancang untuk dilihat sebagai bagian dari rangkaian.
Justru itu yang membuat hari itu berguna. Ziarah rombongan biasanya menyusun perhentian supaya membentuk kesimpulan. Jalan kaki sendiri di kota tidak menawarkan kesimpulan — cuma tiga bangunan yang berdiri di kota yang sama dan sudah lebih dulu ada daripada hampir semua orang yang lewat di depannya hari ini.
- Mulai jam tujuh pagi. Bukan saran, syarat — Semarang jam satu siang tidak bisa diajak jalan kaki.
- Sepatu, bukan sandal. Trotoarnya bagus di Kota Lama dan berhenti mendadak setelahnya.
- Cek jadwal misa harian; masuk gereja lebih mudah kalau ada misa atau tepat sesudahnya.
- Bawa air satu liter, isi ulang di warung. Tidak ada penjual air di antara Gedangan dan Randusari.
- Kalau bawa rombongan besar, urutannya dibalik: Randusari dulu, Kota Lama terakhir supaya bus mudah menunggu.
- Rute
- Blenduk (Kota Lama) → St. Yusuf Gedangan → Katedral Randusari
- Jarak
- ± 6,4 km jalan kaki, tambah 20% untuk salah jalan
- Waktu
- 07.00–14.00 termasuk makan dan berhenti
- Medan
- Datar sampai Gedangan, menanjak ke Randusari
- Biaya
- Tanpa tiket; siapkan tunai untuk makan dan sumbangan
- Tidak cocok untuk
- Lansia dan anak kecil — untuk mereka pakai mobil antar-titik
Rute ini saya rekomendasikan untuk orang yang bosan dengan ziarah yang seluruh perpindahannya terjadi di dalam kendaraan. Enam kilometer bukan prestasi. Tapi kamu akan tahu bentuk kotanya, dan tidak ada bus yang bisa memberi kamu itu.