Tiga gereja tua dalam satu hari di Semarang
Rute jalan kaki 6,4 km, tiga arsitektur yang saling tidak bicara, dan satu warung soto di antaranya.
Renata Silalahi — 8 Mei 2026
Rencananya sederhana: jalan kaki, tiga gereja, satu hari, tanpa naik apa pun kecuali kaki sendiri. Total 6,4 kilometer menurut ponsel saya, meskipun angka itu naik jadi hampir delapan karena dua kali salah jalan dan satu kali berhenti karena tidak tahan bau soto.
Semarang cocok untuk ini karena bangunan tuanya berkumpul, bukan tersebar. Dan tiga gereja yang saya pilih hari itu dibangun pada tiga zaman yang berbeda, oleh tiga kelompok yang tidak sedang bicara satu sama lain.
Saya mulai dari Kota Lama, dari bangunan berkubah yang semua orang sebut Gereja Blenduk. Perlu saya sebut sejak awal supaya rutenya jujur: Blenduk bukan gereja Katolik. Ia gereja Protestan, GPIB Immanuel, dan berdiri di sini sejak pertengahan abad ke-18 — bangunan yang kita lihat sekarang hasil perombakan besar setelahnya.
Bagian lain: Pukul 07.10 — Gereja Blenduk, dan kejujuran soal rute ini · Pukul 09.30 — St. Yusuf Gedangan · Pukul 11.15 — soto, dan bagian yang tidak bisa dihindari · Pukul 13.00 — Katedral Randusari
Semua tulisan · Rute Ziarah · Katalog Peziarah