PEZIARAH

Lima menit dari rumah, dan aku tidak tahu

Gereja Katolik pertama di Bali berdiri di ujung jalan yang kulewati dua kali sehari. Aku baru tahu dari internet.

Dion Wicaksono · 14 September 2026 · 12 menit baca Gerbang angkul-angkul Gereja Tritunggal Mahakudus Tuka, Bali — ukiran batu paras dengan pintu kayu dan atap limas gaya wantilan

Sudah tak terhitung berapa kali aku melewatinya. Setiap pagi, kadang masih setengah mengantuk dalam perjalanan mengantar anak sekolah, aku melewati jalan depan gereja itu — angkul-angkul, gerbang khas Bali yang biasanya ada di pura — dan berpikir, well, nothing. Kecuali ketika untuk pertama kalinya dulu aku lewat sana, tak lama setelah pindah ke daerah situ, aku memang sempat membatin tentang keunikan itu. Di hari-hari lain setelah itu, aku terus melaju. Juga di perjalanan pulang. Kecuali weekend, tiap hari aku melewati gereja itu dua kali sehari. Minimal. Begitulah hubunganku dengan Gereja Tritunggal Mahakudus Tuka selama bertahun-tahun.

Aku Katolik. Yah, kurang lebih. Tipe yang cuma ke gereja saat Natal, mendengarkan homili dengan sungguh-sungguh, lalu tidak memikirkan urusan iman sampai Desember berikutnya tiba. Tipe yang nama baptisnya tertera di KTP, tapi surat baptisnya entah di mana — disimpan Mak'e di rumah Jogja, ternyata. Jadi harusnya ada rasa ingin tahu yang mendorongku untuk berhenti, masuk, dan melihat-lihat. Ternyata tidak.

Aku pernah ke sana tentu saja. Pertama, mengantar Mak'e ketika beliau berkunjung ke Bali, menengok cucunya tahun 2018. Kedua dan mungkin sampai keenam kalinya, tiap kali sekolah anakku mengadakan misa di situ. Kali ketujuh saat istri dan anakku misa di sana, Jumat Agung 2025. Tapi dari jumlah ganjil itu, aku tak pernah beranjak lebih jauh dari parkiran gereja.

Sampai suatu sore yang gabut — jenis sore di mana kerjaan selesai terlalu cepat tapi jam pulang masih berapa jam lagi — aku mengetikkan sesuatu di laptopku, untuk keperluan peziarah.com. Dan aku pun jatuh ke dalam lubang yang cukup dalam.

Gerbangnya harusnya sudah jadi petunjuk pertama

Dari luar, ini tidak tampak seperti gereja. Atapnya tinggi berbentuk limas, mengikuti gaya wantilan — bangunan pertemuan tradisional Bali — dan pintu masuknya dirancang dengan gaya angkul-angkul, lengkap dengan dua pintu kecil di kiri dan kanan. Aku sudah samar-samar menyadari ini, tapi baru berdiri di dalam kompleksnya, aku memperhatikan betapa disengajanya setiap detail. Ukiran dinding dalam aksara Bali. Penjor saat hari raya. Gapura yang tampak cocok berdiri di pura mana pun di sekitar sini.

Ini bukan sekadar dekorasi supaya terlihat lokal. Belakangan aku tahu ini disebut inkulturasi — upaya yang sadar dan sengaja secara teologis agar agama Katolik berakar di tanah Bali, bukan mengimpor estetika asing ke dalamnya. Pastor Johannes Kersten SVD, misionaris SVD pertama yang tiba di Bali pada 1935, adalah orang yang memperkenalkan arsitektur gereja yang disesuaikan dengan desain, ukiran, dan ornamen Bali — bahkan memasukkan gamelan sebagai bagian dari liturgi. Filosofinya, sebagaimana dikisahkan, adalah agar umat Katolik Bali tidak menjadi orang asing di tanahnya sendiri.

Gagasan yang sungguh indah, kalau kamu mau berhenti dan memikirkannya.

Bagian yang membuatku terhenti

Setelah beberapa menit menelusuri laman-laman untuk mencari inspirasi — peziarah.com masih memerlukan banyak hal — aku sampai ke website Gereja Tuka. Dan di sanalah, tertulis dengan lugas, seolah semua orang sudah tahu: gereja ini adalah gereja Katolik pertama yang dibangun di Bali.

Aku tinggal lima menit dari sini. Lima menit. Dan aku tidak tahu sama sekali.

Peletakan batu pertama dilakukan pada 12 Juli 1936, dan pembangunan selesai pada 14 Februari 1937. Sastrawan Bali I Gusti Panji Pisna kemudian memberikan sebuah nama yang bertahan hingga kini: The Bethlehem of Bali. Betlehem. Seperti, tempat di mana segalanya dimulai.

Peresmian pada 14 Februari 1937 itu dianggap sebagai momen berdirinya Paroki Tuka — dan gereja ini diresmikan oleh Mgr. Abraham dari Michigan City, Amerika Serikat, yang kebetulan sedang mengunjungi Bali dalam perjalanannya dari Filipina. Seorang uskup tamu dari Amerika, dalam perjalanan lintas Pasifik, mampir untuk memberkati gereja Katolik pertama di Pulau Dewata. Sejarah itu aneh dan menakjubkan sekaligus.

Kisah asal-usulnya lebih menarik dari bangunannya

Ini tidak dimulai dari misionaris yang tiba-tiba datang dan mengkristenkan orang. Dua pria Bali asli — I Made Bronong dan I Wayan Diblug — adalah orang-orang yang pertama kali membuka jalan itu. Merekalah para perintis yang kemudian bertemu dengan Pastor Johannes Kersten SVD. Dengan kata lain, awal mula Desa Tuka memeluk Katolik datang dari dalam, dari warga lokal yang sedang dalam perjalanan spiritual mereka sendiri. Tokoh lain yang juga diakui sebagai perintis adalah Pan Sekar, Pan Paulus, dan Pan Maria.

Pada 1937, umat Katolik di Tuka membangun sebuah gereja kecil dan sederhana di sisi barat desa — dengan bantuan seorang Hindu bernama I Gusti Made Rai Sengkug dari Banjar Pendem, Dalung. Seorang tetangga Hindu membantu membangun gereja Katolik pertama di Bali. Aku tidak tahu kenapa detail ini menyentuhku sedalam itu, tapi memang begitulah adanya.

Bangunan yang kamu lihat hari ini sebenarnya bukan struktur asli 1937. Gereja Tritunggal Mahakudus yang sekarang diberkati oleh Uskup Denpasar, Mgr. Vitalis Djebarus SVD, pada 14 Februari 1984 — dibangun secara swadaya oleh umat. Salib Besar Yesus di dalamnya diukir oleh pemahat Hindu bernama I Gusti Ketut Sandya dari Banjar Balun, Denpasar, menjadikan gereja ini lambang toleransi beragama.

Seorang pemahat Hindu mengukir salib di gereja induk Katolik Bali. Aku benar-benar harus duduk sebentar merenungkan itu.

Lalu ada kisah tentang kepergian

Tiga tahun setelah gereja berdiri, sebagian dari umat pertama Tuka pergi. Bukan karena berpaling dari iman, tapi justru karena memegangnya terlalu erat sampai tidak lagi diterima di tempat mereka sendiri.

Kehadiran umat Katolik baru di Tuka menimbulkan ketegangan dengan warga Hindu setempat. Mereka yang berpindah keyakinan mendapat sanksi adat, dan konflik seputar hak pemakaman menjadi salah satu titik gesekan yang paling tajam. Dalam situasi itulah pemerintah kolonial Belanda dan Raja Bali akhirnya memberi izin kepada umat Katolik untuk berpindah dan membuka pemukiman baru — sebuah izin yang, meski datang dari keinginan penguasa untuk menjauhkan mereka, diterima oleh umat sebagai anugerah dari Tuhan.

Pada 15 September 1940, bertepatan dengan perayaan Maria Pieta, Pastor Simon Buis SVD bersama rombongan yang terdiri dari 17 kepala keluarga dari Tuka, 1 dari Beringkit, dan 6 dari Gumbrih — 24 keluarga semuanya — berangkat menuju Bali Barat. Perjalanan sejauh 120 kilometer itu mereka tempuh dengan berjalan kaki, dan menjadi ujian yang sesungguhnya: hanya 18 orang yang berhasil mencapai tujuan.

Tujuan mereka adalah kawasan hutan belantara di ujung barat Bali — tempat yang kini dikenal sebagai Palasari.

Saat itu Palasari masih berupa hutan yang dihuni banyak binatang buas, sehingga para keluarga perintis itu terpaksa membangun rumah mereka di atas pohon. Bukan metafora. Benar-benar di atas pohon. Pada 1941, enam keluarga melarikan diri dan hendak kembali ke Tuka. Pastor Simon Buis berhasil menemukan mereka, namun hanya dua keluarga yang mau kembali ke Palasari.

Sisanya tetap bertahan. Dan dari keteguhan yang keras kepala itulah lahir salah satu desa Katolik paling ikonik di Indonesia — lengkap dengan gereja bergaya gotik-Bali yang megah, yang baru selesai dibangun dan ditahbiskan pada 13 Desember 1959.

Jadi Tuka bukan hanya tempat Katolik pertama kali berakar di Bali. Tuka juga adalah titik berangkat dari sebuah eksodus — kisah nyata sekelompok orang yang berjalan kaki melintasi pulau demi mempertahankan keyakinan mereka, lalu membangun sebuah dunia baru di tengah hutan dari nol.

Aku membaca ini semua sambil membayangkan duduk di bangku gereja yang sepi. Sore itu, tidak ada misa pastinya. Hanya aku, kipas angin yang berputar pelan di langit-langit bergaya wantilan, dan perasaan bahwa aku baru saja menemukan sesuatu yang seharusnya sudah kuketahui sejak lama.

Yang terus kupikirkan sejak sore itu

Tuka bukan tempat yang terkenal. Tidak ada geotag Instagram dengan ratusan ribu foto. Ini desa yang tenang di Kuta Utara, tempat yang biasa kamu lewati dalam perjalanan menuju tempat lain. Dan berdiri di ujungnya, tidak mencolok dari jalan, adalah sebuah gereja yang — dengan segala ukuran — merupakan situs bersejarah yang penting. Desa Tuka diakui sebagai desa pertama di Bali yang menerima ajaran Katolik, di mana para leluhur masyarakatnya yang sebelumnya beragama Hindu mulai memeluk Katolik pada awal abad ke-20.

Aku pernah ke Vatikan. Aku pernah menyalakan lilin di gereja-gereja barok di Eropa. Dan ternyata gereja Katolik tertua di seluruh Bali ada lima menit dari depan pintu rumahku, sementara aku terlalu sibuk memikirkan nasi jinggo untuk peduli.

Ada pelajaran di sana tentang bagaimana kita melihat hal-hal yang paling dekat dengan kita. Aku masih mencari tahu apa persisnya. Yang aku tahu: lain kali aku melewati gerbang angkul-angkul itu pada Minggu pagi, mungkin aku akan benar-benar masuk. Bukan karena aku tiba-tiba jadi lebih taat. Tapi karena ternyata aku selama ini tinggal di sebelah Bethlehem-nya Bali, dan itu jenis hal yang layak untuk ditakzimi.

KALAU KAMU MAU KE SANA
Nama
Gereja Tritunggal Mahakudus Tuka
Alamat
Jalan Raya Tuka No. 23, Dalung, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali
Misa Minggu
06.00, 08.00, dan 18.00 WITA
Yang dilihat
Gerbang angkul-angkul, atap limas gaya wantilan, ukiran aksara Bali, Salib Besar karya pemahat Hindu I Gusti Ketut Sandya
Digabung dengan
Palasari di Jembrana, ± 3 jam darat ke barat — ujung lain dari kisah yang sama

Sumber: situs Paroki Tuka (parokituka.com), situs Paroki Palasari, dan Keuskupan Denpasar. Ditulis dengan bantuan AI.

SEMUA TULISAN DI JURNAL →

PEZIARAH
KERANJANG ({{ cartCount }})
{{ resultsLabel }}
{{ r.name }} {{ r.cat }} {{ r.price }}
PEZIARAH
KERANJANG ({{ cartCount }})
JURNAL / {{ pillarLabel }}
{{ kicker }}

{{ title }}

{{ dek }}

{{ author }} · {{ date }} · {{ readLabel }}
{{ heroSlot }}
{{ photoCredit }}

{{ b.text }}

{{ b.text }}

{{ b.text }}
{{ b.slot }}
{{ b.caption }}
  • {{ it }}
{{ b.text }}
{{ r.k }} {{ r.v }}

{{ b.note }}

{{ b.text }} →
{{ author }}

{{ bio }}

Tulisan lengkapnya belum terbit di sini. Sementara ini, baca rubrik lainnya di Jurnal.

Masih di rubrik yang sama

{{ pillarLabel }}
{{ p.slot }}

{{ p.title }}

{{ p.dek }}

{{ p.date }} · {{ p.read }} MENIT
SURAT DUA MINGGUAN

Satu tulisan, satu barang, tiap dua minggu.

{{ note }}